World
Trade Organization (WTO) sebenarnya untuk SIAPA????
Well,
pagi ini editorial media Indonesia membahas tentang pertemuan para pemimpin
negara dalam sebuah organisasi yang namanya Worl Trade Organization (WTO). Secara
sekilas yang ane tau tentang ini organisasi adalah sebuah organisasi yang
terdiri dari berbagai negara untuk menyepakati berbagai komitmen yang
menyangkut tentang perdagangan dunia. Mulai dari regulasi, kapasitas kuota
impor-ekspor dan proses lainnya yang berkaitan dengan perdagangan.
Kali
ini Indonesia yang menjadi tuan rumah pertemuan pemimpin negara WTO tersebut
tepatnya di Pulau Dewata, Bali. Sebenernya
mulai dari awal penyelenggaraan kegiatan ini sudah banyak pro-kontra. Mereka yang
kontra terutama kalangan pelaku usaha menengah yang merasa bahwa keterlibatan
Indonesia dalam ajang WTO dinilai tidak memberikan kontribusi yang
menguntungkan bagi Indonesia itu sendiri. Hal ini dapat di maklumi karena dari
beberapa kali kesepakatan yang dihasilkan dari WTO ini hanya menguntungkan bagi
negara-negara maju saja. Para pengusaha sudah pesimis akan WTO akan mampu
menjaga keseimbangan perdaganan dunia. Ane gak tau apa yg terjadi selama ini,
apakah memang negara berkembang yang terlalu bergantung dengan negara maju atau
ada kepentingan dari segelintir orang saja yang bermain di level birokrat atau
para negoisator negara berkembang kalah bergaining dengan para negoisiator negara
maju, entahlah??
Konferensi
WTO yang di selenggarakan di Bali kali fokus membahas pada pengembangan
perdagangan sektor pertanian. Hasilnya yaitu berupa paket Bali yang berisi
beragam kebijakan serta atura-aturan dalam perdaganan internasional. Ada yang menarik
terkait hari terakhir penutupan konferensi WTO pada tahun ini dimana terjadi
dialog yang alot sampai-sampai mengulur waktu penutupan konferensi WTO ini
karena belum tercapainya kata sepakat diantara negara peserta WTO.
India
menjadi negara pencetus penolakan atas regulasi yang terdapat di Paket Bali
hasil dari Konferensi WTO tahun ini. India secara tegas menolak persetujan
paket Bali yang menyatakan bahwa subsidi pertanian sebesar 10-15 % dalam jangka
waktu 4 tahun. Inginnya India yaitu subsidi pertanian sebesar 15% dengan jangka
waktu yang tidak terbatas. Hal ini perlu di pahami bahwa India sebagai negara
berkembang tidak ingin pertanian nasionalnya terus-terusan di setir dan di
bayangi oleh negara maju. Seperti kita ketahui bahwa subsidi digunakan sebagai
upaya pemerintah memberikan bantuan di sektor pertanian. Dengan adanya subsidi
ini maka diharapkan ongkos biaya produksi pertanian dalam negeri dapat di tekan
dan harga produk pertanian dapat murah dan tentunya dapat bersaing dengan
produk pertanian dari luar negeri.
Namun,
yang menjadi aneh adalah pihak dari pemerintah kita Indonesia setuju-setuju
saja dengan hasil Paket Bali tersebut. Mengapa Indonesia manut-manut saja
dengan keputusan ini sedangkan India saja protes dengan tegas. Padahal ada
beberapa kesamaan antara India dan Indonesia mulai dari sama-sama negara
agraris yang harusnya memperkuat ketahanan pertaniannya. Harusnya Indonesia
dapat mencontoh India yang secara tegas hasil persetujuan tidak dirasakan adil.
Jadi, sebenarnya WTO ini untuk Siapa???
Indonesia
yang katanya disebut-sebut sebagai negara agraris dengan sektor pertanian yang
cukup tinggi namun pada kenyataan pertanian kita masih jauh tertinggal dan
kalah bersaing dengan negara-negara lain. Bahkan, sektor pertanian kita masih
sering impor tentunya hal ini menjadi indikator bahwa pertanian nasional kita
jauh dari kata swasembada pertanian. Faktanya adalah pada tahun 2013 saja
jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan, berdasarkan data BPS sebanyak
50,1 juta petani di Indonesia terus berkurang. Hal ini dapat di pahami bahwa
semakin banyak penduduk kita meninggalkan profesi sebagai petani. Kalau sudah
begini mau jadi apa sektor pertanian Indonesia?? Tentunya krisis pangan mulai
mengintai.
Jika
ingin dipersalahkan, salahkan pemerintah yang tidak bisa mengambil kebijakan
sektor pertanian dimana dapat ditarik kesimpulan bahwa pemerintah tidak
berpihak pada para petani. Pemerintah terus saja meningkatkan impor dan membuat
produk para petani lokal terus kalah bersaing di pasaran. Indonesia tidak
memiliki konsep yang matang dan arah kebijakan strategis yang matang terkait
dengan ketahanan pangan nasional. Jika memang begitu kita patut mempertanyakan
apakah sebenarnya negara kita tercinta ini sudah merdeka ? Apa masih di depan
pintu gerbang kemerdekaan atau masih belum layak dikatakan merdeka secara
hakiki? Kita lah yang dapat menjawabnya.
Posted by: Didi Kalnadi
Komentar
Posting Komentar